Showing posts with label Analisis. Show all posts
Showing posts with label Analisis. Show all posts

Monday, 21 February 2022

Peluang usaha

 Lismiatun dkk. (2020 : 40) mengemukakan bahwa peluang usaha adalah sebuah kreasi yang berdiri sendiri, lahir dari pemikiran sendiri, extraordinary, serta kemandirian. Wirausahawan harus memiliki pemikiran kreatif dan inovatif untuk mendapatkan hasil yang maksimal agar dapat meminimalisir kendala atau hambatan dalam menjalankan usahanya. Sering kali seseorang memiliki keinginan untuk mendirikan usaha karena didorong adanya peluang usaha atau melihat adanya peluang usaha. Maka dari itu menurut Bygrave dalam Saiman (2017 : 74), ada tiga komponen utama yang sebaiknya diteliti dan dievaluasi bagi seseorang yang ingin sukses untuk membuka usaha baru, yaitu: 

1. The opportunity-kesempatan. Apakah kita dapat memanfaatkan kesempatan tersebut dan menjalaninya dikemudian hari.

2. The entrepreneur (and the management team)-entrepreneur dan tim manajemen. Apakah kita mampu menjadi wirausahawan dan membentuk tim manajemen yang kuat.

3. The resources needed to start the company and make it glow-kebutuhan berbagai sumber daya untuk memulai usaha dan pertumbuhan perusahaan. Apakah berbagai sumber daya yang mungkin kita perlukan mampu kita sediakan, minimal sumber bahan baku, sumber daya manusia, sumber daya modal. Lebih jauh jika memungkinkan mampu menguasai faktor produksi utama atau 6M (men, money, material, machine, method, dan market) plus sumber daya tanah dan manajemen.

Selain itu, kita harus mengetahui strategi menangkap peluang usaha. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Saiman (2017 : 76) bahwa membuka usaha adalah sesuatu yang sangat berisiko dan penuh ketidakpastian namun dibalik itu ada potensi yang menjanjikan bila usaha tersebut berhasil. Poin-poin berikut ialah tentang bagaimana strategi untuk menghadapi usaha yang selalu berpeluang untung dan atau berpeluang rugi:

1. Pada saat usaha mengalami/berpeluang untung

Keuntungan atau laba itu harus digunakan untuk menghasilkan keuntungan baru berikutnya. Uang harus dijadikan uang untuk menghasilkan uang lagi yang lebih banyak lagi. Setelah untung jika mungkin bukan untuk mencari hutang atau menimbun hutang dan atau menambah beban atau berfoya-foya. Kecenderungan ini justru akhirnya akan menjadi sebaliknya, kegagalan usaha.

2. Pada saat usaha mengalami kerugian atau berpeluang rugi

Pada saat usaha mengalami kerugian, jangan membuat kita putus asa. Kegagalan harus dapat dijadikan guru atau pengalaman yang baik dan berharga karena kita dapat mempelajari berbagai kesalahan, kekurangan, kelemahan, dan atau kegagalan kita. Sehingga, dikemudian hari meminimalisir kemungkinan faktor penyebab kegagalan.

Thursday, 13 January 2022

Alat Musik Gamolan Lampung


Indonesia merupakan negara yang beragam dan memiliki budaya budaya yang kompleks. Sebuah Negara besar dan kaya akan nilai luhur budaya dan tradisi di setiap daerahnya dan memiliki karakteristik kebudayaannya masing-masing, baik pada tarian, lagu, maupun alat musik tradisionalnya.

 

Salah satu daerah di antaranya adalah Lampung, yang memiliki aneka ragam budaya dan tradisi. menjadi salah satu daerah yang memiliki alat musik tradisional yang disebut Gamolan. Gamolan merupakan alat musik khas Lampung yang terbuat dari bambu. Gamolan adalah sebuah instrumen musik Lampung yang merupakan warisan budaya dunia. Gamolan mendapat pengaruh yang dimulai pada fase Pra-sejarah, zaman klasik hingga zaman modern. Kebudayaan oral, batu, kayu hingga bambu, selain itu Gamolan juga mendapat pengaruh kepercayaan Animisme, Dinamisme, Hindu-Buddha, Islam dan Melayu. Bangsa India, China,  Arab dan Eropa. Dari sekian pengaruh tersebut terbentuklah Gamolan sebagai instrumen musik tradisional Lampung.

 

Xylophone dari Provinsi Lampung, Sumatera. Delapan lempengan bambunya secara kasar memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf. Lempengan- lempengan bambu tersebut diikat secara bersambungan dengan tali rotan yang disusupkan di bagian teratas lempeng. Penyangga yang tergantung bebas di atas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul oleh sepasang tongkat kayu. Dua orang pemain duduk di belakang alat musik ini, salah satu dari mereka (pemimpin) memainkan pola-pola melodis pada enam lempeng dan orang satunya (gelitak) mengikutinya pada dua lempeng sisanya. Lempeng-lempeng pada gamolan di stem dengan cara menyerut punggung bambu agar berbentuk cekung. (Margaret J Kartomi,1985:31)

 

Gamolan yang merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Lampung memperlihatkan fakta yang cukup ironi, karena pada kenyataannya sebagian besar masyarakat Lampung belum mengetahui alat musik tersebut. Hal ini terlihat pada penyebutan gamolan sebagai cetik dan sebagian yang lain masih mengira bahwa gamolan adalah gamelan merujuk pada alat musik Jawa, karena memiliki nama yang hampir sama. Keadaan seperti ini harus segera di luruskan karena untuk dapat menjaga dan melestarikan kebudayaan yang menjadi kebanggaan bangsa perlu adanya pemahaman dan wawasan budaya terutama bagi generasi muda, sehingga eksistensi dari Gamolan dapat terus berkembang di tengah arus globalisasi.



Kenyataan bahwa Gamolan yang merupakan alat musik tradisional Lampung belum populer dikalangan masyarakat setempat. Beberapa hal yang menjadi alasan Gamolan belum dikenal di masyarakat tersebut yaitu kurangnya pengetahuan dan wawasan budaya daerah ditambah lagi lokasi desa yang cukup jauh dari pusat kebudayaan dan minimnya kesadaran generasi muda untuk mencari wawasan budaya dari berbagai sumber, serta kurang adanya program pengenalan dan pengembangan kebudayaan khususnya Gamolan di wilayah tersebut.

 

Memiliki wawasan terhadap Gamolan tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan diri sebagai suatu bangsa tetapi juga dapat meningkatkan kreativitas seperti dapat membuat alat musik Gamolan yang dapat berdampak pada perekonomian, menyelenggarakan pentas seni Gamolan, dan dapat menjadi wahana dalam mengembangkan minat dan bakat masyarakat khusunya generasi muda. Pengembangan dan pelestarian Gamolan harus terus di kembangkan sedini mungkin bagi generasi muda yang akan menjadi agen penerus bangsa.

Sunday, 21 November 2021

Resume Jurnal EKSPRESI SENI WARGA KAMPUNG JOYOHARJAN

 Resume Jurnal

EKSPRESI SENI WARGA KAMPUNG JOYOHARJAN


Tulisan ini merupakan studi terhadap ekspresi seni warga kampung Joyoraharjan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi warga kampung Joyoraharjan dalam membangun kampungnya melalui kegiatan kesenian dan sejauh mana warga kampung mengelola lingkungan kampung dan mengekspresikan kreativitas seninya dalam kehidupan sehari-hari. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa motivasi warga kampung dalam membangun kampungnya adalah memperkuat kolektivitas dalam rangka membangun identitas kampung. Ekspresi seni warga Kampung Joyoraharjan meliputi beberapa bentuk atau medium antara lain seni rupa yang terwujud dalam mural, lukisan dan musik yang berupa permainan Gejluk Lesung. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa kampung sebagai penyangga kota memiliki keterikatan dengan tradisi yang terus-menerus berusaha diartikulasikan kembali oleh warganya. 

Tulisan ini berusaha mengungkap motivasi warga kampung Joyoraharjan dalam upaya membangun eksistensinya melalui kegiatan kesenian. Persoalan yang hampir serupa pernah diangkat oleh para seniman di Yogyakarta melalui proyek mural. Ketika masyarakat di kampung-kampung Jogja juga diikutkan dalam proyek mural dengan cara melukis Tembok tembok kampong mereka sendiri yang tidak terpakai, bahkan menjadi santapan liar graffiti yang tidak memedulikan keindahan, maka sebenarnya ada usaha berkomunikasi antara seniman dengan masyarakat. Pada akhirnya, mural justru menjadi seni publik yang tidak hanya dimiliki oleh seniman mural saja, namun masyarakat yang tidak paham menggambar dengan “indah” pun dapat diikutkan dalam rangka keindahan kota (Wicandra, 2005: 126) , Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Dengan jenis penelitian ini dapat ditangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi yang penuh nuansa (Sutopo, 2002: 35). Dalam penelitian ini digunakan pendekatan etnografi, menjelaskan bahwa inti dari etnografi adalah upaya untuk memperhatikan makna-makna dan tindakan dari kejadian yang menimpa.

Joyoraharjan adalah kampung yang mencakup RT 01, 02, 03, 04 RW 10 kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Surakarta. Kampung Joyoraharjan terletak di antara pasar Ledoksari dan Stasiun Jebres. Joyoraharjan merupakan salah satu kampung padat penduduk dengan 350 Kepala Keluarga (KK) dengan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang di pasar. Lokasi kampung tersebut sangat strategis karena letaknya tidak jauh dari pusat kota. Banyaknya pendatang dari dari waktu ke waktu membuat wajah baru di daerah tersebut. Lokasi pemukiman di Joyoraharjan yang padat dengan gang-gang sebagai alur lalu-lintas penghuninya membuat beberapa generasi muda berpikir untuk menghias area pemukiman mereka. Pilihannya jatuh pada dinding-dinding di sepanjang gang, baik dari sisi barat yang dekat dengan pasar Ledoksari, maupun dari sisi selatan. Setelah mereka memiliki gagasan tersebut maka dilakukanlah semacam penelusuran sejarah kampung dengan melakukan wawancara-wawancara kepada para tetua kampung. Proses tersebut didampingi oleh beberapa remaja yang banyak menghasilkan seni mural di kota Solo. Proses tersebut akhirnya menghasilkan suatu kesepakatan bahwa di satu titik dinding, yaitu di jalan masuk sebelah selatan akan dibuat mural yang menggambarkan K.R.H. (Kanjeng Raden Haryo) Kusuma Tanoyo yang merupakan sesepuh kampong. Kegiatan mural bersama tersebut secara drastis mengubah wajah kampung Joyoraharjan. Tembok-tembok rumah warga yang dulu terlihat kusam berubah menjadi penuh aneka gambar. Mural tersebut secara simbolis memulai sebuah garis baru dalam komunikasi antar warga. Ruang dialog baru terbuka oleh partisipasi warga dalam kegiatan. Tak hanya ruang komunikasi saja yang terbuka namun juga ruang fisik Kampung

Joyoraharjan memiliki banyak potensi di dalamnya. Di antaranya terdapat beberapa aktivitas unik dari Karang Taruna seperti kesenian Gejluk Lesung, boneka ninidok dan beberapa cerita sejarah yang membentuknya. Gejluk lesung adalah musik yang dimainkan dengan cara memukul lesung dengan alu. Lesung adalah alat tradisional untuk memisahkan padi dari kulitnya. Lesung dibuat dari kayu utuh dengan ukuran panjang yang bervariasi. Lazimnya, lesung berukuran antara dua hingga tiga meter. Adapun batang kayu yang sering digunakan sebagai bahan pembuatan lesung adalah kayu pohon asam, nangka dan kayu sawo. Sedangkan alu atau penumbuk terbuat dari batang kayu yang keras, ulet agar tidak mudah patah. Kayu yang sering digunakan untuk alu adalah, kayu pohon asam, sawo, lamtoro (petai cina), dan jati. Alu berbentuk tongkat sepanjang satu setengah hingga dua meter dan berdiameter kurang lebih 8-10 cm dengan cekungan sehingga mudah untuk dipegang. Alunan dari benturan alu dan lesung sangat harmoni ketika dipadu dengan lagu dolananyang dinyanyikan oleh para remaja. Hingga hari ini, Gejluk Lesungtetap dilestarikan oleh para remaja kampung sebagai sebuah cara untuk mempertautkan mereka dengan K.R.H. Kusuma Tanoyo sebagai tokoh dari masa lalu di kampung mereka yang mereka kenang dan hormati.

Gerakan untuk membangun relasi sosial baru dalam masyarakat berbasis komunitas mulai muncul akibat dari kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.Salah satunya adalah dengan mengadakan suatu Event baik secara kolaboratif ataupun independen.Jika dilihat dari sifat pergerakannya, kampung Joyoraharjan lebih sering mengadakan eventdalam lingkup internal. Tujuan utama daripergerakan warga kampung Joyoraharjan memang bukan untuk mencapai eksistensi yang diakui dunia luar. Mereka menganggap hal tersebut hanyalah efek semata, yang terpenting bagi mereka adalah terbangunnya relasi sosial baru antar warga kampung melalui berbagai kegiatan seni, sebuah relasi sosial yang terjalin atas dasar cita-cita kolektif untuk membangun identitas kampong Joyoraharjan sebagai kampung yang peduli lingkungan, berseni dan tidak melupakan sejarah kampung bahkan berusaha terpaut dengan sejarah tersebut melalui pelestarian tradisinya. 


KESIMPULAN 


Cairnya kebudayaan kota berimplikasi pada dipertanyakannya kembali identitas kampung-kota yang menjadi penopangnya. Kampung kota dalam hal ini mengalami semacam tuntutan untuk mengartikulasikan ulang identitasnya. Geliat kesenian warga kampung Joyoraharjan yang terekspresikan dalam seni mural dan konservasi musik Gejluk Lesung adalah bagian dari upaya mengartikulasikan Identitas di tengah budaya kota tersebut. Secara partisipatif warga kampong yang dimotori oleh generasi muda menggunakan ruang fisik kampung sebagai “kanvas” bagi karya-karya kolektif mereka. Upaya pelestarian dan pembangkitan kembali ingatan kolektif atas tradisi tergambar pada karya-karya mural dan pada musik Gejluk Lesungyang hari ini telah beralih dari sakral menjadi profan. Dilihat dari ekspresi kesenirupaan maupun musik, terlihat bahwa warga kampung Joyoraharjan memilih untuk tetap terhubung dengan tradisi yang mereka warisi sebagai bagian dari narasi identitas kolektif yang terus berusaha diartikulasikan.

 













Saturday, 6 November 2021

Teori Chomsky Mengenai Perkembangan Bahasa

 

Teori Chomsky

Mengenai Perkembangan Bahasa

 

Pengantar Biografis

            Pada 1949,Montessori  berusaha menyadarkan kita kalau kemampuan anak menguasai bahasa merupakan keberhasilan yang mengagumkan.Bukan pembelajaran kata-kata yang mengesankan pendidik wanita ini,melainkan ketepatan mereka menggunakan gramatika atau sintaksis sebuah sistem aturan untuk menciptakan dan memahami kalimat-kalimat yang dengan benar.Aturan-aturan gramatika ini begitu kompleks dan tertanam begitu dalam didalam bahasa-bahasa ucapan sampai orang dewasa sendiri sulit untuk menyadarinya,tapi rntah bagaimana anak sanggup menguasai tanpa mereka sadari kebanyakan dari aturan-aturan tersebut diusia enam tahun.

            Para psikologi mungkin setuju dengan pendapat Montessori ini namun untuk waktu yang cukup lama mereka dikudungi oleh ketidaktahuan tentang aturan-aturan dan struktur-struktur gramatika itu sendiri.Pada tahun 1957,Chomsky tergugah menerbitkan bukunya,Syantatic Structures,dimana dia menggambarkan sejumlah pengoperasian bahasa yang kita gunakan untuk membentuk dan mengubah kalimat.

            Noam Chomsky lahir pada 1928 di Philadelpa.Dia mempelajarai linguistik dari ayahnya seorang pemikir Yahudi yang disegani dan belajar linguistik,matematika dan filsafat di Universitas Pennsylvania.Sebenarnya dia bosan dengan kuliah-kuliah itu setelah dua tahun mengikutinya,dan bersiap-siap untuk keluar kuliah saat tiba-tiba saja bertemu dengan linguis kenaaman waktu itu,Zellig Harris.Chomsky jadi begitu terserap dengan pekerjaan Harris sehingga mendorongnya untuk mulai membuat inovasinya sendiri.Pada masa-masa inilah,Chomsky meraih  gelar sarjana muda sampai doktornya dari Pennsylvania.

            Chomsky terkenal bukan hanya karena inovasi-inovasinya didalam linguistik,namun juga aktivitas-aktivitas dan tulisan-tulisan politiknya.Dia tumbuh besar didalam apa yang disebutnya ‘komunitas Yahudi radikal’ (Lyons,1970,h.xi) dan menjadi salah satu intelektual pertama yang menentang Perang Vietnam.Dia juga menulis secara luas tentang kebijakan luar negeri Amerika dan menentang campur tangan militer AS lainnya,termasuk perang melawan Irak.Chomsky dianugerahi delapan gelar doktor kehormatan dan masih banyak lagi penghargaan lain yang bermacam-macam bentuknya dibidang-bidang studi lain.

Konsep Dasar

            Pentingnya Aturan-Aturan

            Sebelum Chomsky dikenal,kebanyakan orang percaya kepada temuan teori belajar bahasa Brown yang disebut ‘gudang penyimpanan’.Anak-anak mengimitasi orang lain dan memperoleh sejumlah besar kalimat yang mereka simpan dikepala mereka.Kemudian mereka menyusun penyusunan kalimat yang tepat saat kejadian-kejadian tertentu muncul (Brown dan Herrnstein,1975,h.444).

            Chomsky sebaliknya,membuktikan kalau pandangan ini tidak tepat.Manusia tidak hanya belajar sejumlah kalimat,karena secara rutin kita selalu menciptakan kalimat-kalimat baru.Seperti ketika menulis buku ini,saya menggunakan kata-kata yang sama berulang-ulang namun saya menciptakan sebuah kalimat baru setiap kali menurut kebutuhan.Dan hal ini terjadi karena kita memiliki aturan-aturan internal yang memampukan kita membuat kalimt sesuai menggunakan kalimat-kalimat yang sudah pernah didengar dan dilihat,bahasa kita mestinya sangat terbatas.Karena kita memiliki sistem aturan tertentu sebuah gramatika maka kita bisa menemukan dan memahami kalimat-kalimat yang tidak pernah didengar sebelumnya (Chomsky,1959,h.56).

            Cara anak yang mengagumkan untuk menguasai aturan-aturan bahasa

            Chomsky telah memusatkan penelitiannya kepada aturan-aturan untuk membuat transformasi kalimat,seperti saat kita mengubah sebuah kalimat pernyataan menjadi pertanyaan.Sebagai contoh,kita bisa mengubah kalimat pernyataan ‘Seekor anjing mengigit wanita itu’ menjadi kalimat pertanyaan ‘Apakah seekor anjing yang mengigit wanita itu?’ Chomsky menunjukan bahwa aturan-aturan untuk membuat tranformasi ini sangat bisa kompleks dan dia begitu takjub ketika anak-anak bisa menguasainya dengan menggunakannya secara rutin.

            Chomsky sendiri mengamati anak hanya secara tidak langsung.Namun kita bisa mengilustrasikan kemampuan linguistik anak ini dengan beberapa temuan Roger Brown (1973) yang sangat berinspirasikan oleh Chomsky.Secara diam-diam,Brown merekam disebuah kaset ucapan spontan anak-anak selama beberapa tahun dan menemukan diantara hal-hal yang lainya,bagaimana mereka membuat transformasi kalimat dengan apa yang disebut question tag (kata tanya pembantu yang dibubuhkan pada kalimat pertanyaan).Tags adalah pertanyaan kecil diakhiri kalimat pertanyaan (Brown dan Herrnstein,1957,h.471).

            Pada kasus apapun,perkembangan questions tag ini selalu merujuk kepada penjelasan Chomsky:Anak-anak menguasai aturan-aturan dan prosedur-prosedur linguistik yang kompleks dengan waktu yang sangat singkat.Mereka tampaknya menguasai sebagain besar seluk-beluk gramatika pada usia enam bulan atau lebih,dan sisanya pada masa remaja.Bukan berarti mereka menyadari keberadaan aturan-aturan gramatika,bahkan Chomsky sendiri masih harus berusaha membuat eksplit.Namun mereka berhasil menguasai pengetahuan ini pada tingkatan intuitif.Mereka belajar dengan cepat aturan-aturan bahasa sendiri dan jika dibutuhkan,bahasa kedua juga.Sudah menjadi pemandangan umum kata Chomsky,bahwa anak-anak kecil dari orangtua imigran bisa mempelajari bahasa kedua dijalanan,dari anak-anak lain dengan kecepatan yang menakjubkan,sehingga anak baru akan berbicara dengan bahasa setempat semahir anak-anak lokal (1959,h.42).

            Chomsky mengakui kalau ucapan setiap orang,termasuk orang dewasa,mengandung kesalahan,selip kata,awal yang keliru dan fregmen-fragmen yang terputus.Kekeliruan ini disebabkan oleh banyak faktor seperti kecerobohan,kecemasan,dan tumpang tindih memori.Namun kekurangan-kekurangan didalam performa ini sangat dipengaruhi oleh kompetensi yang mendasarinya,yang bisa terungkap paling baik lewat kemampuan membedakan kalimat yang buruk pembentukannya dan yang baik pembentukannya (Chomsky,1962,h.531).

            Hipotesis Bawaan (innate hypothesis)

            Chomsky mengatakan kalau pencapaian linguistik anak-anak pada umumnya terlalu besar untuk bisa dijelaskan jika kita beranggapan hal itu yang diajarkan oleh lingkungan.Pengetahuan mereka berkembang jauh melebihi pengalaman mereka.Kita hanya bisa menyimpulkan,kata Chomsky,bahwa anak-anak tidak membangun gramatika dari bukti-bukti yang mereka dengar melainkan dari rancangan batin sebuah program genetik (1972,h.171;1980,h.232-234).

            Chomsky suka membandingkan perkembangan gramatika dengan pertumbuhan organ-organ fisik,seperti jantung atau alat-alat pengelihatan embrionik.Jika struktur-struktur yang muncul terlalu rumit untuk bisa dijelaskan hanya lewat masukan lingkungan.Lingkungan memang vital,namun dia hanya mendukung atau mengaktifkan pola-pola yang secara instrinsik sudah ditentukan.Dengan cara yang sama sederhananya,lingkungan linguistik utamanya memacu pengkonstruksian sistem-sistem gramatika yang polanya sudah ditentukan oleh cetak biru manusia (1980,h.33).

            Namun ada pertanyaan yang kemudian muncul.Jadi bagaimana cara kerja proses pembelajaran bahasa bawaan seperti ini?ketika bahasa tidak seperti organ fisik dan bahasa yang dipelajari anak bergantung kepada budaya tempatnya dibesarkan.

            Usulan Chomsky yang terbaru adalah (1986,h.145-150),ketika anak menguasai sebuah gramatika mereka dituntun oleh pengetahuan bawaan mengenai gramatika universal.Secara otomatis mereka tahu bentuk umum bahasa yang harus diambil.Namun gramatika universal ini memiliki celah didalamnya,membiarkan parameter tertentu terbuka.Sebagai contoh,salah satu prinsip universal gramatika adalah semua kalimat mestinya mengandung satu topik,namun beberapa bahasa mengizinkan pembicara untuk rutin membiarkan topik ini implisit yaitu ketika pembicara tidak harus menyuaraknnya.Dalam bahasa Italia kita hanya mengatakan ‘Pergi’ diaman dalam bahasa Inggris orang harus mengatakan ‘Dia pergi’ (Hyams,1986).Kalau begitu,anak-anak memerlukan informasi dari lingkungan untuk menyiapkan parameter ini,menentukan aturan-aturan mana yang sedang diikuti bahasa mereka.Kemampuan  anak belajar bahasa kalau begitu,Chomsky mempostulasikan merupakan sesuatu yang sepesifik bagi spesies (ditemukan hanya pada manusia) dan menjadi kemampuan istimewa didalam pikiran manusia.Artinya,sebuah kemampuan yang tidak bisa disamakan begitu saja dengan belajar sains,music dan seterusnya,kamampuan ini sudah memiliki rancangan genetiknya sendiri.

Thursday, 4 November 2021

ANALISIS MIKRO OSEANOGRAFI UNTUK KARAMBA BUDIDAYA DI PERAIRAN KABUPATEN BADUNG BALI

 

 

 

1.1 Latar Belakang

Kabupaten Badung adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali yang dulunya ibu kota dari kabupaten tersebut terletak di Denpasar namun sudah mengalami pemindahan sehingga saat ini berada di Mengwi. Secara geografis, wilayah ini terletak membujur dari Utara ke Selatan yang bisa dikatakan hampir berada ditengah-tengah Pulau Bali. Titik koordinat dari Kabupaten Badung antara lain adalah 08014’17”-08005’57’LS, 115005’02”-115015’09”BT sedangkan untuk batas wilayahnya adalah Kabupatan Buleleng di sebelah Utara, Kabupaten Tabanan di Barat dan Kabupaten Bangli, Gianyar serta kota Denpasar di sebelah Timur. Wilayah ini termasuk salah satu wilayah yang sudah maju sektor perikanannya namun sektor budidaya yang dilaksanakan masih dalam lingkup sektor budidaya air tawar. Oleh sebab itu, hasil dari budidaya tersebut masih sangat terbatas mengingat musim kemarau yang sedang melanda di sebagian besar wilayah Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, akan sangat menguntungkan apabila dilakukan studi lebih lanjut mengenai usaha budidaya keramba ikan di perairan laut karena kabupaten tersebut memiliki cakupan wilayah laut yang luas. Hal ini akan terealisasi dengan baik apabila ilmu tentang kelautan dikuasai dengan baik terlebih dahulu.

Bidang ilmu yang mempelajari tentang ruang lingkup kelautan adalah oseanografi. Secara sederhana isitilah dari oseanografi adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari semua tentang aspek yang berhubungan dengan laut yang meliputi antara lain tumbuhan dan binatang laut. Selain itu, oseanografi juga sering diartikan sebagai suatu gambaran atau deskripsi umum tentang laut. Gambaran atau deskripsi tentang laut yang biasa dibahas dalam bidang oseanografi antara lain adalah eksplorasi (pembelajaran) ilmiah mengenai laut dan segala fenomenanya seperti El-Niño Southern Oscillation (ENSO), fenomena kolam air hangat/dingin di Samudera Hindia bagian timur barat Sumatra yang berkaitan dengan fenomena Dipole Samudera Hindia atau biasa disebut sebagai Indian Ocean Dipole (IOD). Oleh karena hal-hal tersebut maka sangat diperlukan pembelajaran lebih lanjut mengenai oseanografi terlebih bagi para pembudidaya yang akan membuka lahan di periaran laut. Pengertian dari laut sendiri, yaitu merupakan salah satu bagian dari hidrosfer dari bumi. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer.

Oleh karena permasalahan di atas, perlu dilakukan pembelajaran lebih lanjut mengenai pengumpulan data yang berhubungan langsung dengan oseanografi guna mempertimbangkan hal-hal yang perlu diperhatikan saat akan melakukan kegiatan bidadaya dengan karamba di laut.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lan adalah:

1.    Bagaimana kondisi angin di perairan yang akan dijadikan titik lokasi dari karamba budidaya?

2     Bagaimana kondisi gelombang air laut dari perairan yang akan dijadikan titik lokasi dari karamba budidaya?

3.    Bagaimana hasil perhitungan gaya yang bekerja terhadap rancangan KJA yang akan ditempatkan di titik lokasi?

 

1.3 Tujuan

Tujuan dari kegiatan analisis mikro oseanografi untuk karamba budidaya di Kabupaten Badung ini antara lain adalah mengetahui kondisi perairan wilayah tersebit cocok atau tidak dijadikan tempat budidaya ikan dengan sistem KJA.


II TINJAUAN PUSTAKA

 

 

2.1 Klasifikasi dan Definisi

Definisi dari keramba jaring apung (KJA) menurut Kadir (2010), yaitu salah satu wadah atau tempat budidaya perairan yang biasa ditempatkan di bagan air bagian dalam seperti waduk, danau dan laut. Pemilihan sistem KJA pada perairan yang dalam seperti waduk, danau dan laut sudah banyak diterapkan oleh para pembudidaya karena penerapan sistem ini cukup ideal. Keramba jaring apung merupakan salah satu wadah untuk penerapan budidaya perairan sistem intensif. Prinsipnya semua jenis ikan laut dan ikan air tawar dapat dipelihara pada keramba  jaring apung. Lokasi yang dapat dipilih oleh para pembudidaya yang akan melakukan budidaya atau pemeliharaan ikan dalam KJA, yaitu perairan yang relatif tenang, terhindar dari badai dan mudah dijangkau.

Salah satu komoditas periaran laut yang sudah dibudidayakan dalam sistem KJA adalah ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus). Ikan kerapu sunu tersebar luas dari wilayah Asia Pasifik termasuk Laut Merah, tetapi lebih terkenal dari teluk Persi, Hawai, atau Polinesia dan hampir seluruh perairan pulau tropis Hindia dan Samudera Pasifik Barat dari Pantai Timur Afrika sampai dengan Mozambika. Klasifikasi ikan kerapu sunu menurut (Cholik, 2005) sebagai berikut.

Phylum                 : Chordata

Sub Phylum         : Vertebrata

Class                    : Osteichtyes

Sub Class             : Neopterygii

Ord                       : Percomorphi

Sub Ordo             : Percoidea

Family                  : Serranidae

Sub Family           : Ephinephelinae

Genus                  : Plectropomus 

Spesies                : Plectropomus leopardus

 

2.2 Faktor Oseanografi

Dijkstra (2008) menjelaskan bahwa faktor oseanografi seperti angina, arus, pasang surut dan gelombang merupakan parameter penting dalam dinamika perairan yang memberikan pengaruh terhadap wilayah serta segala kegiatan budidaya yang dilakukan di daerah pesisir dan laut. Oleh karena itu, perlu didukung dan pembelajaran baru mengenai informasi tentang pola angin, arus, pasang surut dan gelombang sebagai informasi untuk menunjang aktivitas budidaya karamba di laut.

 

2.2.1 Angin

Angin laut atau yang biasa disebut dengan angin lokal yang merupakan aliran udara yang mengalir ke arah daratan serta terjadi pada siang hari. Selain itu, angina laut juga merupakan sirkulasi konvektif lokal yang terjadi akibat dari perbedaan panas antara daratan dan lautan. Angin laut yang terjadi akan sangat memberikan pengaruhi terhadap kondisi cuaca disuatu wilayah. Peranan lain dari angin darat serta angin laut yang terjadi adalah sebagai pembentuk awan-awan rendah. Terbentuknya awan-awan rendah tersebut memberikan manfaat bagi beberapa wilayah di sekitarnya karena awan-awan rendah adalah penghasilkan presipitasi berupa hujan (Simpson, 1994).

 

2.2.2 Gelombang

Gelombang laut merupakan salah satu parameter laut yang dominan terhadap laju mundurnya garis pantai. Gelombang laut terjadi karena hembusan angin dipermukaan laut, perbedaan suhu air laut, perbedaan kadar garam dan letusan gunung berapi yang berada dibawah atau permukaan laut. Proses mundurnya garis pantai dari kedudukan semula antara lain disebabkan oleh gelombang dan arus, serta tidak adanya keseimbangan sedimen yang masuk dan keluar. Gelombang yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya pembangkit tersebut terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi, bulan dan matahari atau yang disebut dengan gelombang pasang surut.

 

2.2.3 Pasang Surut

Pasang-surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal, yakni dorongan ke arah luar pusat rotasi. Hukum gravitasi Newton menyatakan, bahwa semua massa benda tarik menarik satu sama lain dan gaya ini tergantung pada besar massanya, serta jarak di antara massa tersebut. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa, tetapi berbanding terbalik terhadap jarak. Sejalan dengan hukum di atas, dapat dipahami bahwa meskipun massa bulan lebih kecil dari massa matahari tetapi jarak bulan ke bumi jauh lebih kecil, sehingga gaya tarik bulan terhadap bumi pengaruhnya lebih besar dibanding matahari terhadap bumi. Kejadian yang sebenarnya dari gerakan pasang air laut sangat berbelit-belit, sebab gerakan tersebut tergantung pula pada rotasi bumi, angin, arus laut dan keadaankeadaan lain yang bersifat setempat. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari (Wardiyatmoko & Bintarto,1994).

 

2.2.4 Arus

Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Pada hakekatnya, energi yang menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan pemanasan matahari terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan energi di seluruh muka bumi. Kedua fenomena ini juga saling berkaitan erat satu dengan yang lain. Angin merupakan salah satu gaya utama yang menyebabkan timbulnya arus laut selain gaya yang timbul akibat dari tidak samanya pemanasan dan pendinginan air laut. Secara sederhana arus dapat diartikan sebagai sirkulasi massa air dari satu tempat ke tempat lain. Pasang surut merupakan gerak fluktuasi massa air secara periodik dan harmonik, yang disebabkan oleh adanya gaya tarik benda-benda langit terutama matahari dan bulan terhadap bumi (Park, 2006).

 

2.3 Keramba jaring apung

Definisi dari keramba jaring apung (KJA) menurut Kadir (2010), yaitu salah satu wadah atau tempat budidaya perairan yang biasa ditempatkan di bagan air bagian dalam seperti waduk, danau dan laut. Pemilihan sistem KJA pada perairan yang dalam seperti waduk, danau dan laut sudah banyak diterapkan oleh para pembudidaya karena penerapan sistem ini cukup ideal. Keramba jaring apung merupakan salah satu wadah untuk penerapan budidaya perairan sistem intensif. Prinsipnya semua jenis ikan laut dan ikan air tawar dapat dipelihara pada keramba  jaring apung. Lokasi yang dapat dipilih oleh para pembudidaya yang akan melakukan budidaya atau pemeliharaan ikan dalam KJA, yaitu perairan yang relatif tenang, terhindar dari badai dan mudah dijangkau.

 

2.3.1 Bahan Konstruksi KJA

Kontruksi KJA menggunakan besi dan bambu sebagai kerangka, drum sebagai pelampung dan untuk pemberat digunakan batu, beton atau jangkar besi. Ketepatan dalam penggunaan pemberat dan pelampung sangat mempengaruhi keseimbangan pada kontruksi keramba. Oleh sebab itu diperlukan perhitungan teknis mengenai kontruksi keramba. Jaring yang dipasang dalam keramba jaring apung terdiri dari dua jenis, yaitu happa dan polyetilene multifilament. Polyetilene digunakan sebagai jaring tingkat pertama dengan mesh size1,5 inchi sedangkan happa dipasang sebagai jaring tingkat kedua dengan mesh size 0,42 cm. Fungsi penggunaan pemberat besi dapat meminimalisir resiko penggantian pemberat dari batu. Tali yang digunakan untuk mengikat pelampung, rakit bambu, tali ris dan tali jangkar adalah tali tambang plastic (PE).

 

2.3.2 Stabilitas KJA terhadap Gelombang

Informasi spasial dari ombak pecah sangat penting bagi sistem budidaya KJA karena akan memperlihatkan perbedaan lebar dari surf zone. Kondisi surf zone yang lebih lebar (jauh dari garis pantai) menunjukkan lokasi di mana terjadi redaman energi yang lebih besar sehingga menciptakan daerah yang cukup aman untuk kegiatan budidaya, sedangkan jika surf zone-nya lebih sempit dan terjadi dekat atau pada garis pantai dapat menjadi indikator akan terjadi propagasi lebih lanjut melewati garis pantai dengan lepasan energi yang lebih destruktif (Horikawa, 1988).

Konvergensi ombak pada suatu wilayah teluk menandakan adanya konsentrasi ombak atau konsentrasi energi yang harus dihindari karena efeknya sangat destruktif baik untuk bangunan yang dilewati (unit KJA) maupun untuk daratan yang dituju. Sedangkan divergensi merupakan petunjuk lokasi di mana terjadi pengurangan energi ombak sehingga juga merupakan pentunjuk awal mengenai lokasi yang aman untuk penempatan unit KJA. Seperti halnya lokasi ombak pecah, refraksi ombak ini merupakan informasi penting mengenai pola arus pantai, angkutan sedimen dan morfologi pantai yang juga merupakan informasi penting dalam manajemen budidaya KJA (Pethick, 1984).

 

2.3.3 Defleksi Keramba

Defleksi/lendutan adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan vertical yang diberikan pada batang material. Deformasi pada balok dapat dijelaskan berdasarkan defleksi sesuai dengan bahan material dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Konfigurasi yang diasumsikan dengan deformasi permukaan netral dikenal sebagai kurva elastis dari balok. Jarak perpindahan y didefinisikan sebagai defleksi balok. Dalam menerapkan konsep ini kadang kita harus menentukan defleksi pada setiap nilai x disepanjang material. Hubungan ini dapat ditulis dalam bentuk persamaan yang sering disebut persamaan defleksi kurva (kurva elastis) dari material.


III. METODE

 

 

3.1 Lokasi KJA

Lokasi yang dijadikan sebagai penempatan KJA adalah Kabupaten Badung, Bali. Kabupaten Badung adalah sebuah kabupaten yang terletak di provinsi Bali yang dulunya ibu kota dari kabupaten tersebut terletak di Denpasar namun sudah mengalami pemindahan sehingga saat ini berada di Mengwi. Secara geografis, wilayah ini terletak membujur dari Utara ke Selatan yang bisa dikatakan hampir berada ditengah-tengah Pulau Bali. Titik koordinat dari Kabupaten Badung antara lain adalah 08014’17”-08005’57’LS, 115005’02”-115015’09”BT sedangkan untuk batas wilayahnya adalah Kabupatan Buleleng di sebelah Utara, Kabupaten Tabanan di Barat dan Kabupaten Bangli, Gianyar serta kota Denpasar di sebelah Timur.

 

 

3.2. Jenis dan Sumber Data

3.2.1 Angin

Data angin daerah Kabupaten Badung, Bali diperoleh dari website Badan Meteorologi Dan Geofisika Balai Besar Meteorologi, Klimatologi Dan Geofisika Wilayah III yang secara langsung bertugas memantau situasi dan kondisi terkini serta perkiraan cuaca daerah Kabuoaten Badung. Selain itu, mereka juga menyediakan layanan jasa informasi secara gratis untuk masyarakat sekitar perihal perkiraan cuaca yang terjadi serta yang akan terjadi pada hari itu.

 

3.2.2 Pasang Surut

Pasang surut adalah fluktuasi muka air laut karena adanya gaya tarik benda-benda di langit, terutama matahari dan bulan terhadap massa air laut di bumi. Elevasi muka air tertinggi (pasang) dan muka air terendah (surut) sangat penting untuk perencanaan bangunan pantai. Pasang-surut laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal, yakni dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gerakan pasang air laut sangat berbelit-belit, sebab gerakan tersebut tergantung pula pada rotasi bumi, angin, arus laut dan keadaankeadaan lain yang bersifat setempat. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari dan menghasilkan dua tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, yaitu sudut antara sumbu rotasi bumi dan bidang orbital bulan dan matahari.

 

3.2.3 Arus

Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Pada hakekatnya, energi yang menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Adanya perbedaan pemanasan matahari terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan energi di seluruh muka bumi. Kedua fenomena ini juga saling berkaitan erat satu dengan yang lain.

 

3.2.5 Keramba Jaring Apung

Jenis bahan yang digunakan untuk karamba yang akan di pasang pada perairan Kabupaten Badung, Bali adalah jaring berbahan dasar happa dan High Density Polyetilene (HDPE). Bahan dasar jaring dipilih berbahan dasar HDPE karena jaring berbahan dasar ini cukup kuat namun lentur. Polyetilene digunakan sebagai jaring tingkat pertama dengan mesh size1,5 inc sedangkan happa dipasang sebagai jaring tingkat kedua dengan mesh size 0,42 cm. Massa dari jaring yang digunakan adalah 2,3-61 kg/m dan memiliki daya tahan semalam 20 tahun. Diameter pelampung yang digunakan sebesar 1,3 meter dan massa dari jagkar yang digunakan berkisar 1.053 kg sedangkan panjang, lebar dan kedalaman dari keramba yang dipasang masing-masing adalah 3,5 meter. Selain itu, detail bahan dari KJA antara lain adalah soliditas (Sn) sebesar 0,30; jarak pelampung ke keramba  2 meter; mooring line 30 meter; total panjang mooring line 32 meter; alpha yang terbentuk sebesar 18,640 ; koefisien geser dalam pasir sebesar 0,5; dan kecepatan arus sebesar 2 m/s; volume anchor diam 2410 m3; volume anchor minimum 300 m3; massa tiap-tiap anchor 343,67 kg dan volume pelampung yang digunakan seberat 211 m3.

Konstruksi pemasangan dan tata letak KJA anatar lain sebagai berikut.

 

Spesifikasi Bahan Apung KJA

Bahan

High Density Polyethilene (HDPE)

Diameter luar

25 cm

Panjang tiap alat apung

350 cm

Warna

Biru cerah

Lain-lain

Pattern anti-slip dengan ketinggian 1,5 mm

Spesifikasi Jaring KJA

Bahan

High Density Polyethilene (HDPE) anti UV

Kategori Net

Tanpa simpul (knotless)

Bentuk

Diamond

Mesh size

1,5 inc

 

3.3 Analisis Data

3.3.1 Angin

Angin laut atau yang biasa disebut dengan angin lokal yang merupakan aliran udara yang mengalir ke arah daratan serta terjadi pada siang hari. Selain itu, angina laut juga merupakan sirkulasi konvektif lokal yang terjadi akibat dari perbedaan panas antara daratan dan lautan. Angin laut yang terjadi akan sangat memberikan pengaruhi terhadap kondisi cuaca disuatu wilayah. Peranan lain dari angin darat serta angin laut yang terjadi adalah sebagai pembentuk awan-awan rendah. Terbentuknya awan-awan rendah tersebut memberikan manfaat bagi beberapa wilayah di sekitarnya karena awan-awan rendah adalah penghasilkan presipitasi berupa hujan.

Fetch efektif akan digunakan pada grafik peramalan gelombang untuk mengetahui tinggi, durasi dan periode gelombang. Fetch rata-rata efektif dihitung dengan persamaan berikut ini.

 

 

3.2.2 Gelombang

Gelombang laut merupakan salah satu parameter laut yang dominan terhadap laju mundurnya garis pantai. Gelombang laut terjadi karena hembusan angin dipermukaan laut, perbedaan suhu air laut, perbedaan kadar garam dan letusan gunung berapi yang berada dibawah atau permukaan laut. Proses mundurnya garis pantai dari kedudukan semula antara lain disebabkan oleh gelombang dan arus, serta tidak adanya keseimbangan sedimen yang masuk dan keluar. Perhitungan gelombang dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

 

3.2.3 Pengaruh Oseanografi terhadap KJA

3.2.3.1 Defleksi KJA

Defleksi/lendutan adalah perubahan bentuk pada balok dalam arah y akibat adanya pembebanan vertical yang diberikan pada batang material. Deformasi pada balok dapat dijelaskan berdasarkan defleksi sesuai dengan bahan material dari posisinya sebelum mengalami pembebanan. Defleksi diukur dari permukaan netral awal ke posisi netral setelah terjadi deformasi. Dalam penentuan nilai defleksi KJA dapat menggunakan rumus berikut.

 

 


Keterangan:

 

 

 

 


3.2.3.2 Reduksi Arus

Adanya perbedaan pemanasan matahari terhadap permukaan bumi menimbulkan pula perbedaan energi yang diterima permukaan bumi. Perbedaan ini menimbulkan fenomena arus laut dan angin yang menjadi mekanisme untuk menyeimbangkan energi di seluruh muka bumi. Dengan adanya fenomena tersebut maka terjadilah reduksi arus yang dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut.

 

3.2.3.3 Perhitungan arus terhadap Jaring

Arus laut adalah gerakan massa air dari suatu tempat (posisi) ke tempat yang lain. Pada hakekatnya, energi yang menggerakkan massa air laut tersebut berasal dari matahari. Selain itu, adanya arus juga disebabkan oleh adanya perbedaan denssitas massa air laut, tiupan angina yang terjadi secara terus menerus di atas permukaan laut serta adanya proses pasang surut air laut. Dengan adanya arus di dalam perairan tentulah akan sangat berpengaruh terhadap kegiatan budidaya yang ada disekitarnya terutama terhadap jaring. Perhitungan arus terhadap jaring dapat dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

 

3.2.3.4 Perhitungan Gelombang

Perhitungan gelombang signifikan tiap tahun dilakukan dengan mengurutkan tinggi gelombang yang dimulai dari gelombang tertinggi hingga terendah yang terjadi setiap tahunnya. Tinggi gelombang signifikan untuk berbagai periode ulang dihitung dari fungsi distribusi probabilitas dengan rumus sebagai berikut dengan  dan B adalah perkiraan dari parameter skala dan lokal yang diperoleh dari analisis regresi linear atau perhitungan dapat dilakaukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

3.2.3.5 Perhitungan Penambatan

Kata penambatan berarti penyambungan dan rumus yang digunakan untuk meghitung penambatan dalam kegiatan karamba budidaya antara lain sebagai berikut.

 


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

 

 

4.1 Angin

Angin laut atau yang biasa disebut dengan angin lokal yang merupakan aliran udara yang mengalir ke arah daratan serta terjadi pada siang hari. Selain itu, angina laut juga merupakan sirkulasi konvektif lokal yang terjadi akibat dari perbedaan panas antara daratan dan lautan. Angin laut yang terjadi akan sangat memberikan pengaruhi terhadap kondisi cuaca disuatu wilayah. Peranan lain dari angin darat serta angin laut yang terjadi adalah sebagai pembentuk awan-awan rendah. Terbentuknya awan-awan rendah tersebut memberikan manfaat bagi beberapa wilayah di sekitarnya karena awan-awan rendah adalah penghasilkan presipitasi berupa hujan. Fetch efektif akan digunakan pada grafik peramalan gelombang untuk mengetahui tinggi, durasi dan periode gelombang.

Berikut ini adalah hasil perhitungan fetch efektif dari daerah Kabupaten Badung.

PERHITUNGAN FETCH EFEKTIF

Arah Angin

Fetch Efektif (km)

Barat Laut

98

Utara

625

Barat Laut

172

Barat Daya

5

 

      

 

               Grafik 1. Angin Barat                                     Grafik 2. Angin Timur

 

               Grafik 3. Peralihan 1                                            Grafik 4. Peralihan 2

 

4.2 Gelombang

Gelombang laut merupakan salah satu parameter laut yang dominan terhadap laju mundurnya garis pantai. Gelombang laut terjadi karena hembusan angin dipermukaan laut, perbedaan suhu air laut, perbedaan kadar garam dan letusan gunung berapi yang berada dibawah atau permukaan laut. Proses mundurnya garis pantai dari kedudukan semula antara lain disebabkan oleh gelombang dan arus, serta tidak adanya keseimbangan sedimen yang masuk dan keluar. Gelombang yang terjadi di lautan dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan gaya pembangkitnya, gaya pembangkit tersebut terutama berasal dari angin, dari gaya tarik menarik bumi, bulan dan matahari atau yang disebut dengan gelombang pasang surut

Perhitungan gelombang signifikan tiap tahun dilakukan dengan mengurutkan tinggi gelombang yang dimulai dari gelombang tertinggi hingga terendah yang terjadi setiap tahunnya. Tinggi gelombang signifikan untuk berbagai periode ulang dihitung dari fungsi distribusi probabilitas dengan rumus sebagai berikut dengan  dan B adalah perkiraan dari parameter skala dan lokal yang diperoleh dari analisis regresi linear

 

4.3 Perhitungan Gaya yang bekerja terhadap KJA

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan maka diperoleh sebagai berikut.

 

Tabel 1. Perhitungan Gaya yang Bekerja

GAYA GAYA YANG BEKERJA

NILAI

SATUAN

Ket

Faktor reduksi

0,74

 

j

Koefisien geser normal

0,64

 

 

Koefisien geser pararel

0,04

 

 

Jumlah cage pararel (n)

3

Buah

 

Jumlah cage normal (m)

4

Buah

 

Lebar cage (B)

3,5

m

 

Panjang cage(L)

3,5

m

 

Kedalaman (D)

3,5

m

 

Kecepatan Arus air

2

m/s

 

Gaya geser normal

48,8

kN

k

Gaya geser pararel

3,7

kN

l

Gaya geser total

52,6

kN

m

 

Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa besar gaya geser normal yang bekerja pada KJA sebesar 48,8 kN. Nilai gaya geser parallel yang bekerja pada KJA bernilai lebih kecil apabila dibandingkan dengan nilai gaya geser naormal yang bekerja, yaitu sebear 3,7 kN sedangkan nilai untuk gaya geser total sebesar 52,6 kN. kecepatan arus aur laut turut mempengaruhi besarnya nilai gaya yang bekerja pada KJA. Setelah dilakukan perhitungan, diketahui bahwa besarnya kecepatan arus air laut sebesar 2 m/s. kedalaman dari KJA yang dibuat hanya berkisar 3,5 meter dan panjang 3,5 meter seerta lebar 3,5 meter dengan jumlah cage normal sebanyak 4 buah.


V. KESIMPULAN

 

 

Berdasarkan hasil yang diperoleh dan penjelasan yang telah dibahas di atas, maka dapat disimpulakn bahwa perairan laut Kabupaten Badung memenuhi kriteria untuk dijadikan wilayahbudidaya dengan sistem KJA dan komoditas ikan yang dibudidayakan yang paling cocok adalah ikan kerapu sunu (Plectropomus leopardus)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Cholik, R.W.G. 2005. Coastal Environments : an introduction to the physical, ecological and cultural systems of coastlines. Academic Press. London, 617 pp.

 

Dijkstra, Salmun. 2008. Progress in Modelling the Impact of Land Use Change on the Global Climate. Department of Geography, Hunter College of the City University of New York. New York, 20 pp.

 

Horikawa, K. 1988. Nearshore Dynamics and Coastal Processes. University of Tokyo Press. Tokyo, 522 pp.

 

Kadir, Ahmad. 2010. Karakteristik Ombak Pada Musim Barat di Pesisir Tanjung Bunga: Suatu Pra-Studi Tentang Laju Sedimentasi dan Difusi Material. Lembaga Penelitian Universitas Hasanuddin. Makassar, 52 hlm.

 

Park, Ebershole.2006. “Regional Coastal Numerical Modeling System 1: RCPWAVE - A Linear Wave Propagation Engineering Use. In  Coastal Engineering Technical Note. Vicksburg, MS: Army Engineer Waterways Experiment Station, 5 pp.

 

Pethick, J. 1984. An Introduction to Coastal Geomorphology. Edward Arnold Ltd. London, 260 pp.

 

Wardiyanto, Bakosurtanal., Bintaro, S. 1994. Seri Peta Rupa Bumi Indonesia. Coastal Aquaculture Engineering. Jakarta.

 

Simpson, Bose., A.N., Ghosh, S.N., Yang, C.T. 1994. Our changing planet. Climate Change Science Program. Coastal Aquaculture Engineering. New York: Edward Arnold, 240 pp.