Showing posts with label Review Jurnal. Show all posts
Showing posts with label Review Jurnal. Show all posts

Thursday, 9 December 2021

Review jurnal ‘’Rekonseptualisasi dokumenter: gagasan tentang kebenaran filmis dalam perspektif film kognitif (2017)’’

Jurnal yang berjudul‘’Rekonseptualisasi dokumenter: gagasan tentang kebenaran filmis dalam perspektif film kognitif (2017)’’. Rekonseptualisasi dokumenter memiliki urgensi dalam kajian dokumenter untuk memberikan sudut pandang lain bagi klaim kebenaran filmis. Rekonseptualisasi ini berangkat dari perspektif film kognitif dengan melibatkan kegiatan menonton, di mana proses pemahaman dan pengalaman penonton menjadi dasar bagi rekonseptualisasi ini. Dokumenter sebagai topik dalam penelitian ini, telah mengumpulkan perhatian yang signifi kan dari berbagai perspektif dalam beberapa tahun terakhir. Tumbuh dan berkembangnya perhatian terhadap praktik film dokumenter, sering ditandai oleh munculnya isu, khususnya tentang kebenaran (truth), yang dihembuskan sejak era Flaherty, Grierson, direct cinema/cinema verite/ free cinema sampai saat ini. Kebenaran dalam dokumenter tidak hanya dilihat dari sisi kebenaran filmis, tetapi juga dilihat dari sisi yang memungkinkan argumentasi lain terhadap aspek fi lmis yang mendasari kebenaran. Argumentasi tersebut merupakan peluang bagi peneliti untuk menawarkan proses tentang cara melihat kebenaran dokumenter dari sudut pandang kognitif.


Pembahasan 

Penyelidikan terhadap penelitian terdahulu 

Konseptualisasi pertama dibangun dengan mempertimbangkan penelitian terdahulu, dan pada tahap ini peneliti melakukan penyelidikan terhadap hasil penelitian berupa definisi maupun teorisasi terhadap dokumenter. Proses ini dimulai dengan memahami pengertian yang menyebut dokumenter selalu didefinisikan secara relasional dan komparatif. Defi nisi relasional memiliki maksud bahwa dokumenter merupakan objek yang tidak dapat berdiri secara tunggal tanpa berhubungan dengan hal-hal yang berada di sekitarnya, baik itu subjek, penonton, pembuat fi lm, dan kejadian yang memuat materi tertentu (Nichols, 1989; Rosen, 1993; Bernard, 2007; Aufderheide, 2007).3 Lebih lanjut, dokumenter juga didefi nisikan secara komparatif. Ini memiliki arti bahwa dokumenter selama ini cenderung diartikan berbeda karakter dan berseberangan dengan fi lm fi ksi (Nichols, 2001: 20; Aquilar, 2013). Bentuk yang mengalami persinggungan dengan model film fiksi, aktualitas sebagai karakteristik, dan representasi budaya menjadi aspek sentral dalam definisi dan teorisasi dokumenter. Aspek sentral ini yang selanjutnya membawa kepada perdebatan atas persoalan kebenaran. Namun rumusan Nichols, Aufderheide, dan Winston notabene berupa konsep yang masih belum peneliti periksa keterkaitannya dengan cikal-bakal lahirnya problem kebenaran. Seperti halnya ketika Nichols membagi empat sudut pandang yang digunakan sebagai pendekatan dalam mendefinisikan dokumenter, belum satupun yang secara eksplisit menunjukkan ruang berpikir tentang relasi keempatnya dalam konteks perkara kebenaran.


Pemetaan problem dari penelitian terdahulu 


Konseptualisasi kedua merujuk pada persoalan yang muncul dari penelitian terdahulu. Hal-hal yang telah diungkap dan dijabarkan dalam penyelidikan di atas memunculkan penafsiran peneliti atas isu-isu yang muncul karena adanya definisi yang menyebutkan bahwa dokumenter merupakan fi lm yang dianggap sebagai gambaran atas kebenaran (Nichols, 1989; Aufderheide, 2007). Isu-isu tersebut notabene menyoroti nasib kebenaran dalam dokumenter yang saat ini cenderung sudah distrukturkan seperti fi lm fi ksi demi mendapat kesan dramatik. Problem kebenaran dalam konteks etika tidak hanya terhenti pada persoalan pelanggaran etika, tetapi juga melaju pada persoalan paksaan. Istilah “paksaan”, yang lahir melalui sebuah studi kasus yang dilakukan oleh Sobchack, dimunculkan sebagai analogi dalam praktik direct cinema yang ditengarai melakukan eksploitasi terhadap objek film.


Tawaran sudut pandang 


Konseptualisasi ketiga merupakan tawaran sudut pandang sebagai alternatif bagi penyelesaian problem terdahulu. Disposisi merupakan istilah dalam sudut pandang kognitif yang peneliti anggap tepat untuk melihat relasi antara dokumenter dan kebenaran melalui proses menonton yang melibatkan struktur mental untuk menyadari keberadaan petunjuk filmis. Beberapa konsep tentang bagaimana kognitif berperan dalam mengungkap kegiatan penonton saat membaca petunjuk-petunjuk filmis, salah satunya muncul dari Bondebjerg. Struktur naratif menjadi kunci dalam analisis Bondebjerg, meskipun dalam hal ini kejelasan kaitan struktur naratif dengan cara berpikir penonton masih harus mempertanyakan kaitan dan linearitasnya. Jika dipahami lebih dalam, Bondebjerg mengungkapkan bahwa pendekatan kognitif dalam dokumenter dapat meningkatkan pemahaman tentang pengaruh pada tingkat kognitif dan emosional, serta berkontribusi pada pembentukan fi ksi sosial dan budaya. Sudut pandang kognitif, menurut Bondebjerg, memiliki kontribusi dalam mengungkap peran naratif, emosi, dan memori terhadap pola berpikir penonton.6 Artinya Bondebjerg menggunakan teori kognitif untuk mengungkap proses berpikir penonton tentang apa yang terjadi kemarin, saat ini, dan yang akan datang saat menonton, melalui pemahaman narasi yang disajikan dalam film.


Kesimpulan 


Rekonseptualisasi terhadap dokumenter ini memeroleh simpulan awal yang di dasari oleh pemikiran sebagai berikut: (1) menonton dokumenter merupakan proses individu yang melibatkan pemahaman penonton dalam masing-masing persepsi. Artinya, ketika seseorang menonton, maka apa saja yang dia tangkap/lihat pada layar selama kegiatan menonton berlangsung, tidak memerlukan pertimbangan sosial tentang rasa suka dan tidak suka, bagus dan jelek, dan pertimbangan lain yang seketika muncul dalam individu seseorang; (2) Dokumenter memiliki banyak unsur persamaan dengan dunia nyata, di mana unsur itu menjadi relevan jika seseorang mempersepsikannya sebagai bagian yang dialami secara individu dan bukan kolektif. Artinya, ketika setiap dokumenter memberikan pengalaman yang bermacam-macam bagi penontonnya, maka si penonton dapat menyusun makna secara individu dari apa yang mereka tonton; dan (3) Dokumenter yang lekat dengan klaim kebenaran, memerlukan pertimbangan kognitif untuk melihat sejauh mana proses menonton terlibat dalam penyelidikan terhadap klaim tersebut. Artinya, klaim kebenaran harus ditinjau ulang dengan melihat sejauh mana penonton yang secara individu memercayai kejadian dalam dokumenter.

Review buku daya seni

 


Buku daya seni ini  di maksudkan untuk menstimulus serta mengembangkan wacana daya seni  pada lingkup pembaca yang lebih luas. Buku ini membahas secara eksplisit untuk menyingkap ketertautan dan keberlindanan seni dengan aspek lain yang telah lebur, dan secara implisit dapat memberikan logika yang taktis dalam membaca, menyikapi, atau menerapkan atas konstelasi seni yang terus berkembang kini. Beberapa decade belakangan, pergeseran wacana seni tidak melulu pada konseptualisasi karya seni, melainkan turut menyentuh praktik dan agensi. Pergeseran tersebut telah di picu serta di pacu oleh perkembangan wacana dalam ilmu sosial humaniora. Daya seni di pahami secara luas sebagai kemampuan yang melekat dalam proses kreatif, wujud kreatif maupun konsumsi kreatif atas gejala serta peristiwa seni. 

Pembahasan 

Kekuatan seni

Seni sebenarnya adalah fenomena umum, yang sudah muncul sejak manusia purba mulai dari melukis dinding-dinding gua atau menciptakan bermacam symbol dan ritus. Sebagai fenomena dan dalam arti luas seni sudah selalu ada, sekurang-kurangnya menjadi symbol, dekorasi, pola ritual, gerakan tari, atau bentuk musical tertentu. Maslahnya adalah bahwa dalam dunia modern, seni kemudian di beri pemaknaan khusus, dengan kerangka filsafati tersendiri dengan medan sosial spesifik, dengan pranata yang otonom, juga dengan karakter keilmuan tertentu yang khas. Sebagai fenomena umum, kekuatan, makna dan fungsi seni erat terkait pada konteks sosio-kulturalnya yang berbeda-beda. Dalam tradisi akademi barat, terutama pada tradisi filsafatnya, istilah seni telah di pikirkan secara koseptual dan di beri definisi-definisi yang ketat. Namun ternyata definisi itu tidak pernah hanya satu, ada banyak konsep kunci yang telah bermunculan dalam rangka memahami fenomena seni.

Ecoart Dalam Seni Rupa

Kebenaran yang kini semakin di akui adalah kenyataan termasuk seni bahwa segala sesuatu itu kelindan, kait mengait, dan saling mempengaruhi. Seni tak pernah sama sekali murni dan berdiri sendiri, atau terpisah dari lingkungannya. Ecoart adalah suatu istilah paying untuk seni yang di kembangkan melalui suatu paradigm yang meyakini bahwa seni tidak lagi dapat di pandang semata dari aspek estetiknya saja, melainkan harus memperhitungkan relasi timbal balikantara seni dan lingkungan diman seni itu hidup dan berkembang.

Ecoart tidak bisa di pisahkan dari pemahaman tentang environmental art, bahwa ecoart adalah suatu praktik seni, dimana sang seniman berkolaborasi dengan saintis, perencanaan lingkungan kota, arsitek dan dengan pihak professional lain, yang bekerja sama mengupayakan pemecahan masalah apabila terjadi degradasi lingkungan, atau problem lingkungan.  Ecoart di buat untuk menginspirasi tumbuhnya rasa cinta dan rasa hormat, merangsang terjadinya dialog, dan mendorong terjadinya keberlangsungan pengembangan lingkungan lingkungan alam dan sosial dimana kita tinggal.

Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Antara Hayatan Dan Hiburan

Pertunjukan wayang kulit di pandang sebagai bahasa symbol dari hidup dan kehidupan yang bersifat rohaniah daripada lahiriah, maka masyarakat pendukung wayang tidak bosan-bosan melihat pertunjukan wayang walaupun cerita yang di sajikan telah di lihat bebebrapa kali. Oleh karena itu nilai estetis dalam pertunjukan wayang di perlukan kehadirannya karena sangat menentukan keberhasilan seniman dalang, bermutu atau setidaknya sajian pakeliran wayang sangat di tentukan unsur-unsur estetis yang tersandung di dalamnya. Adapun beberapa fungsi wayang yaitu (1) sebagai sarana pendidikan dan penerangan (2) sebagai refleksi nilai-nilai estetis (3) sebagai sarana untuk mencari nafkah (4) sebagai hiburan.

Pucuk Rebung

Pucuk rebung adalah tunas bamboo muda yang tumbuh di antara himpunan rumpun bambu. Dalam penciptaan seni, alam benda, flora, fauna dan manusia sering menjadi sumber inspirasi penciptaan seni yang mengalami penyederhanaan, deformasi, dan stilisasi sesuai kemampuan, keterampilan, dan pengalaman estetik berdasarkan penghayatan dan pengembaraan jiwa penciptanya. Motif pucuk rebung melahirkan bentuk segitiga, tumpal, dan antefiks, yang berkonotasi bentuk gunung, gunungan, kalpataru, pohon hayat, batang garing, dan semen. Setiap kelahiran seni di pastikan di landasi oleh konsep, nilai, dan gagasan kreatif, di landasi ideology pencipta dan penggunanya sesuai jiwa zaman. Konsep tersebut berhubungan dengan pengalaman merasakan gejala keindahan atas objek alam.

Dari Sang Kancil Hingga Wayang Kancil : Lapis-Lapis Kreativitas 

Pembahasan perihal kreativitas seringkali di bicarakan dalam ranah seni, karena inti dari seni terletak pada kreativitas. Cerita tidak pernah identic dengan pengalaman, sedangkan pengalaman itu sendiri bukan lah realita melainkan internalisasi subyek atas realita. Cerita kancil di pandang merupakan contoh yang tepat untuk membahas kreativitas seni karena dongeng tersebut menunjukan bagaimana orang menggunakan aspek tertentu dari binatang ini untuk mengungkapkan pengalaman maupun gagasan tertentu.  Lebih menarik lagi cerita kancil hadir dalam berbagai wujud kreatif mulai dari dongeng lisan, buku cerita bergambar maupun tanpa gambar, nyanyian, serta mewujud pula dalam bentuk pagelaran wayang kancil.

Daya Naratif Dalam Novel Dan Film Twilight

Unsur-unsur teks pada dasarnya  dapat di alihkan dari satu media ke media yang lain, namun tidak dapat secara persis dan sepenuhnya tanpa kehilangan property-propertinya yang hakiki. Terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara media film yang visual dan sastra, khususnya novel yang verbal. Film sangat memadai untuk mengungkapkan tipe realitas fisik, namun tidak demikian dengan novel. Film yang berdasarkan novel tentu masih memiliki kemiripan tertentu dengan novelnya, namun secara tak terhindarkan telah menjadi suatu entias artistic yang berbeda. Twilight the movie merupakan film yang di dasarkan atas novel twilight karya stephenie meyer. Atas perbedaan adegan dari novel dan film twilight dapat di simpulkan bahwa novel dan film memiliki daya naratif yang berbeda dalam mengungkapkan kesadaran konseptual.

Ornamentasi Melisma : Estetika Vokalisasi Selestial Acappela 

Sejarah music barat di awali dengan lahirnya vokalisasi selestial yang di kenal sebagai music gereja pada ke-5, di dukung oleh komunitas kristiani yang tumbuh sejak awal masehi, dan mencapai pucaknya setelah kaisar constaintine pada tahun 312 menyatakan bahwa nasrani menjadi agama resmi kekaisaran nasrani. Perbicangan tentang gaya melismatik kembali mengingatkan pada kebangkitan music greja melalui vokalisasi a cappella abad pertengahan. Sedangkan vokalisasi selestial adalah lantunan suara manusia yang membawakan melodi dan syair yang surgawi. Estetika melisma sebagai ornamentasi music reja dalam jalinan polifonik dapat di lihat dari contoh conductus abad pertengahan.

Pelebagaan Kesenian Tradisi Masyarakat Desa Banyusidi Magelang

Kesenian bagi masyarakat seperti sudah menjadi suatu keharusan dan telah mewujud berakar urat ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Seperti yang ada terjadi di desa banyusidi kabupaten magelang, kehidupan berkeseniannya berjalan beriringan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang sebagian besar hidup di sektor pertanian. Pelembagaan adalah suatu sistem bentuk hubungan kesatuan masyarakat yang di atur oleh suatu budaya tertentu, dan sebagai suatu prosedur yang menyebabkan tindakan atau perbuatan manusia yang di batasi oleh pola tertentu dan di arahkan untuk bergerak melalui jalan yang di anggap sesuai dengan keinginan masyarakat

Blue Whale Suicide Game : Imitasi Seni Pertunjukan Dan Ambivalensi Curator/Seniman

Curator berangkat dari seni rupa yang berhubungan bagaimana seseorang memilih format dan seniman, menyampaikan tema dan konsep, serta mengatur keungan dan penonton. Sebuah karya seni selalu melibatkan elemen pertunjukan, yang mengimplikasikan adanya pencapaian. Keya seni adalah produk dari kemampuan manusia dan menjadi saksi atas pertunjukan yang telah menghasilkannya. Oleh karena itu ketika kita menemukan suatu karya seni yg merupakan jiplakan atau penipuan, kita tidak bisa ,mengapresiasinya  sebagai sebuah karya seni karena tidak adanya aspek pencapaian dalam proses penciptaan karya tersebut.

Kesimpulan

Pada hakikatnya seni bekerja dalam prinsip yang setara dengan falsifikasi. Seni mengungkapkan dimensi-dimensi kebenaran hidup maupun kebenaran-kebenaran seni yang dalam keseharian atau biasanya tidak atau kurang di perhatikan. Seni mencelikkan mata hati, mata piker, dan inra penglihatan kita akan daya yang di miliki benda hidup dan mati dengan cara menggali dan mengolah berbagai dimensi yang terdapat dalam setiap elemen penyusup bentuk seni. Seni tidak pernah berhenti pada persoalan teknis kebentukan belaka. Seni senantiasa memiliki dimensi maknawinya atau lebih tepatnya memiliki efek indrawi dan maknawinya. Pergeseran cara pandang terhadap seni dari pertanyaan perihal makna kea rah persoalan cara kerja seni membuahkan pemikiran-pemikiran baru tentang hubungan antara makna, proses, paktik dan media. Akhirnya seni tidak akan pernah mengubah dunia secara sendirian karena seni ada hakikatnya merupakan proses mediasi yang terikat dalam ruang dan waktu.

Saturday, 27 November 2021

Rangkuman jurnal SELFIE : BUDAYA IDENTITAS REMAJA SURABAYA IDEALITA ISMANTO

 Latar Belakang 

Budaya adalah salah satu cara hidup yang berkembnag, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi kegenerasi. Budaya popular yang beredar di masyarakat Indonesia bukan saja marak berasal dari produksi local, melainkan berasal dari budaya global. Salah satu budaya yang saat ini sedang digandrungi oleh para remaja adalah selfie di Instagram. Foto selfie  remaja di Indonesia  saat ini hanya berpusat pada media hiburan. Selfie sendiri berasal dari tahun 1839 oleh fotografer Amerika bernama Robert Cornelius. Telah banyak perkembangan dalam dunia fotografi yang akhirnya mempengaruhi masyarakat umum dunia di dalam mendokumentasikan kehidupannya melalui media fotografi. Ketika munculnya Kodak Brownie yang berukuran kotak di tahun 1900, telah bembawa perkembangan yang cukup besar untuk selfie (Mrazkova, 1987 : 36). Kecenderungan remaja Indonesia dengan banyaknya ppenggunaan internet saat ini tidak terlepas dari tuntutan gaya hidup yang memaksa merek terus berubah. Dalam penelitian ini data diambil secara empiris melalui remaja-remaja yang berselfie di tempat tinggal di Surabaya.Populasinnya yaitu remaja generasi melenial.


Isi Pembahasan

Remaja adalah salah satu konsumen terbesar internet saat ini. Menurut wawancara yang dilakukan peneliti dengan Ketua Dewan Pendidikan Surabaya, Dr. Martadi, M.Pd, fungsi internet bagi anak muda saat ini yakni pertama adalah mencari informasi, kedua sebagai penghubung antara teman lama dan baru dan ketiga sebagai media hiburan. Sebagai media hiburan, anak muda saat ini banyak menggunakan media sosial yang beragam seperti instagram, snap chat, facebook, ataupun twitter. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif. Penulis membagikan kusioner  kepada siswa usia 15 hingga 18 tahun sebanyak 593 siswa pada bulan Februari. Hasil dari kuesioner tersebut  masuk kedalam kategori teori uses and gratification yang merupakan kebutuhan pelarian yang diperlukan remaja untuk melarikan diri dari suasana tegang, emosi, kesepian dan tidak adanya dukungan sosial di sekelilingnya.

Sesuai dengan perhitungan angket yang disebarkan pada beberapa SMA di Surabaya, terdapat paparan hasil riset bahwa remaja di Surabaya sendiri tidak memiliki rasa percaya diri yang tinggi untu menerima diri mereka sebagai pribadi yang berkarakter dan berbudi pekerti. Nilai positif dalam foto selfie konteks peddidikan yaitu dapat dijadikan sebagai media ekspresi diri, dapat membangun rasa percaya diri, dapat memperoleh teman baru lewat dunia media sosial dan dapat juga digunakan sebagai endordment suatu produk. Apabila seorang remaja melakukan foto selfie  dengan muatan tertentu, misalnya mengampanyekan tentang anti korupsi atau budaya bersih dapat memberikan hal positif bagi anak remaja. Dampak negative pada foto selfie yakni dapat membuat kecanduan pada anak-anak yang melakukan dan mengunggah di media sosial. Jika sehari tidak melakukan foto selfie pasti tidak percaya diri. 


Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis visual foto selfie dalam frame komunikasi visual dapat disimpulkan bahwa foto selfie remaja di Surabaya merupakan pemaknaan dari remaja sebagai metadata, visualisasi dan teks terbuka yang mengandung muatan motif hiburan semata. Kepercayaan diri remaja dapat diatasi dengan adanya kurikulum pendidikan karakter yang berbudi luhur dan kuat agar dapat menjadi fondasi dan filterisasi dari dampak dunia visual saat ini.

Sunday, 21 November 2021

Resume Jurnal EKSPRESI SENI WARGA KAMPUNG JOYOHARJAN

 Resume Jurnal

EKSPRESI SENI WARGA KAMPUNG JOYOHARJAN


Tulisan ini merupakan studi terhadap ekspresi seni warga kampung Joyoraharjan, Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi warga kampung Joyoraharjan dalam membangun kampungnya melalui kegiatan kesenian dan sejauh mana warga kampung mengelola lingkungan kampung dan mengekspresikan kreativitas seninya dalam kehidupan sehari-hari. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa motivasi warga kampung dalam membangun kampungnya adalah memperkuat kolektivitas dalam rangka membangun identitas kampung. Ekspresi seni warga Kampung Joyoraharjan meliputi beberapa bentuk atau medium antara lain seni rupa yang terwujud dalam mural, lukisan dan musik yang berupa permainan Gejluk Lesung. Dari penelitian ini dapat dilihat bahwa kampung sebagai penyangga kota memiliki keterikatan dengan tradisi yang terus-menerus berusaha diartikulasikan kembali oleh warganya. 

Tulisan ini berusaha mengungkap motivasi warga kampung Joyoraharjan dalam upaya membangun eksistensinya melalui kegiatan kesenian. Persoalan yang hampir serupa pernah diangkat oleh para seniman di Yogyakarta melalui proyek mural. Ketika masyarakat di kampung-kampung Jogja juga diikutkan dalam proyek mural dengan cara melukis Tembok tembok kampong mereka sendiri yang tidak terpakai, bahkan menjadi santapan liar graffiti yang tidak memedulikan keindahan, maka sebenarnya ada usaha berkomunikasi antara seniman dengan masyarakat. Pada akhirnya, mural justru menjadi seni publik yang tidak hanya dimiliki oleh seniman mural saja, namun masyarakat yang tidak paham menggambar dengan “indah” pun dapat diikutkan dalam rangka keindahan kota (Wicandra, 2005: 126) , Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Dengan jenis penelitian ini dapat ditangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskripsi yang penuh nuansa (Sutopo, 2002: 35). Dalam penelitian ini digunakan pendekatan etnografi, menjelaskan bahwa inti dari etnografi adalah upaya untuk memperhatikan makna-makna dan tindakan dari kejadian yang menimpa.

Joyoraharjan adalah kampung yang mencakup RT 01, 02, 03, 04 RW 10 kelurahan Purwodiningratan, Kecamatan Jebres, Surakarta. Kampung Joyoraharjan terletak di antara pasar Ledoksari dan Stasiun Jebres. Joyoraharjan merupakan salah satu kampung padat penduduk dengan 350 Kepala Keluarga (KK) dengan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang di pasar. Lokasi kampung tersebut sangat strategis karena letaknya tidak jauh dari pusat kota. Banyaknya pendatang dari dari waktu ke waktu membuat wajah baru di daerah tersebut. Lokasi pemukiman di Joyoraharjan yang padat dengan gang-gang sebagai alur lalu-lintas penghuninya membuat beberapa generasi muda berpikir untuk menghias area pemukiman mereka. Pilihannya jatuh pada dinding-dinding di sepanjang gang, baik dari sisi barat yang dekat dengan pasar Ledoksari, maupun dari sisi selatan. Setelah mereka memiliki gagasan tersebut maka dilakukanlah semacam penelusuran sejarah kampung dengan melakukan wawancara-wawancara kepada para tetua kampung. Proses tersebut didampingi oleh beberapa remaja yang banyak menghasilkan seni mural di kota Solo. Proses tersebut akhirnya menghasilkan suatu kesepakatan bahwa di satu titik dinding, yaitu di jalan masuk sebelah selatan akan dibuat mural yang menggambarkan K.R.H. (Kanjeng Raden Haryo) Kusuma Tanoyo yang merupakan sesepuh kampong. Kegiatan mural bersama tersebut secara drastis mengubah wajah kampung Joyoraharjan. Tembok-tembok rumah warga yang dulu terlihat kusam berubah menjadi penuh aneka gambar. Mural tersebut secara simbolis memulai sebuah garis baru dalam komunikasi antar warga. Ruang dialog baru terbuka oleh partisipasi warga dalam kegiatan. Tak hanya ruang komunikasi saja yang terbuka namun juga ruang fisik Kampung

Joyoraharjan memiliki banyak potensi di dalamnya. Di antaranya terdapat beberapa aktivitas unik dari Karang Taruna seperti kesenian Gejluk Lesung, boneka ninidok dan beberapa cerita sejarah yang membentuknya. Gejluk lesung adalah musik yang dimainkan dengan cara memukul lesung dengan alu. Lesung adalah alat tradisional untuk memisahkan padi dari kulitnya. Lesung dibuat dari kayu utuh dengan ukuran panjang yang bervariasi. Lazimnya, lesung berukuran antara dua hingga tiga meter. Adapun batang kayu yang sering digunakan sebagai bahan pembuatan lesung adalah kayu pohon asam, nangka dan kayu sawo. Sedangkan alu atau penumbuk terbuat dari batang kayu yang keras, ulet agar tidak mudah patah. Kayu yang sering digunakan untuk alu adalah, kayu pohon asam, sawo, lamtoro (petai cina), dan jati. Alu berbentuk tongkat sepanjang satu setengah hingga dua meter dan berdiameter kurang lebih 8-10 cm dengan cekungan sehingga mudah untuk dipegang. Alunan dari benturan alu dan lesung sangat harmoni ketika dipadu dengan lagu dolananyang dinyanyikan oleh para remaja. Hingga hari ini, Gejluk Lesungtetap dilestarikan oleh para remaja kampung sebagai sebuah cara untuk mempertautkan mereka dengan K.R.H. Kusuma Tanoyo sebagai tokoh dari masa lalu di kampung mereka yang mereka kenang dan hormati.

Gerakan untuk membangun relasi sosial baru dalam masyarakat berbasis komunitas mulai muncul akibat dari kebutuhan dari masyarakat itu sendiri.Salah satunya adalah dengan mengadakan suatu Event baik secara kolaboratif ataupun independen.Jika dilihat dari sifat pergerakannya, kampung Joyoraharjan lebih sering mengadakan eventdalam lingkup internal. Tujuan utama daripergerakan warga kampung Joyoraharjan memang bukan untuk mencapai eksistensi yang diakui dunia luar. Mereka menganggap hal tersebut hanyalah efek semata, yang terpenting bagi mereka adalah terbangunnya relasi sosial baru antar warga kampung melalui berbagai kegiatan seni, sebuah relasi sosial yang terjalin atas dasar cita-cita kolektif untuk membangun identitas kampong Joyoraharjan sebagai kampung yang peduli lingkungan, berseni dan tidak melupakan sejarah kampung bahkan berusaha terpaut dengan sejarah tersebut melalui pelestarian tradisinya. 


KESIMPULAN 


Cairnya kebudayaan kota berimplikasi pada dipertanyakannya kembali identitas kampung-kota yang menjadi penopangnya. Kampung kota dalam hal ini mengalami semacam tuntutan untuk mengartikulasikan ulang identitasnya. Geliat kesenian warga kampung Joyoraharjan yang terekspresikan dalam seni mural dan konservasi musik Gejluk Lesung adalah bagian dari upaya mengartikulasikan Identitas di tengah budaya kota tersebut. Secara partisipatif warga kampong yang dimotori oleh generasi muda menggunakan ruang fisik kampung sebagai “kanvas” bagi karya-karya kolektif mereka. Upaya pelestarian dan pembangkitan kembali ingatan kolektif atas tradisi tergambar pada karya-karya mural dan pada musik Gejluk Lesungyang hari ini telah beralih dari sakral menjadi profan. Dilihat dari ekspresi kesenirupaan maupun musik, terlihat bahwa warga kampung Joyoraharjan memilih untuk tetap terhubung dengan tradisi yang mereka warisi sebagai bagian dari narasi identitas kolektif yang terus berusaha diartikulasikan.